YEEEYYYYY…….
akhirnya setelah sekian TAHUN victor kembali lagi menemukan kembali niatan untuk menulis. Cukup lama juga saya untuk menemukan kembali niat untuk menulis setelah di cerahkan oleh surayah alias pidi baiq, lewat tulisan-tulisannya lah sehingga saya kembali sangat suka untuk membaca dan menulis. Thank you pidi baiq.
akhirnya setelah sekian TAHUN victor kembali lagi menemukan kembali niatan untuk menulis. Cukup lama juga saya untuk menemukan kembali niat untuk menulis setelah di cerahkan oleh surayah alias pidi baiq, lewat tulisan-tulisannya lah sehingga saya kembali sangat suka untuk membaca dan menulis. Thank you pidi baiq.
Oke pembahasan
kali ini saya ingin mulai dari berbicara tentang rumah yang nyaman. Rumah yang
nyaman menurut saya adalah tempat dimana kita merasakan marah, bahagia, sedih,
dan segala jenis emosi yang dimiliki manusia dan tersalurkan di tempat itu
selama bertahun-tahun bahkan mungkin dari awal si orang itu menghirup oksigen
pertamanya di bumi sampai menutup matanya untuk terakhir kali, sejelek-jeleknya
rumah itu jika sang pemilik keluar, tidak ada alasan bagi sang pemilik
untuk berlama-lama meninggalkannya karena seolah-olah rumah adalah sudah
menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Sebenarnya saya menulis ini adalah
bentuk kerinduan seorang manusia bernama victor akan rumahnya di suatu daerah
yang letak geografisnya berada di provinsi Sulawesi selatan, kota pare-pare. yang mungkin saja rumah itu
tidak akan dia tinggali lagi bersama keluarganya dikarenakan sesuatu yang
sampai sekarang alasan untuk pindah tempat lain belum sampai di logika saya,
but what ever lah victor hanyalah manusia biasa yang kadang pendapatnya di
anggap sebelah mata, karena victor bukan apa-apa untuk saat ini di
sekelilingnya (mungkin). Inti dari tulisan ini sebenarnya bukan untuk
melampiaskan kekecewaan victor karena keluarga kecil kami berpindah ke tempat
lain yang saya anggap bukan rumah, tempat itu lebih tepatnya saya anggap hanya
sebatas tempat persinggahan, tempat tidur, dan tempat bercengkrama dengan ayah
dan ibu mungkin juga bercengkrama dengan adik dan kakak jika mereka telah
pulang dari tanah rantau nun jauh disana. Victor yang hanya rindu rumah.
victor yang hanya rindu suasana rumah yang
dulu sangat hangat rasa kekeluargaan didalamnya, daripada berkali kali naik
motor sejauh 150km untuk melihat bangunan ini dan mengenang kembali masa
keemasan keluarga kami di rumah dan mempertaruhkan nyawa untuk berkali kali
naik motor sendiri ke rumah, mungkin dengan mengisi blog ini, kebiasaan
bepergian jauh untuk melihat rumah akan sedikit berkurang (siapa tau).
Gambar bangunan sederhana di atas itu adalah
rumah kami (dulu). Rumah yang seakan sudah menyatu dengan darah, daging, tulang
dan pikiran kami sekeluarga, mungkin menurut anda bangunan sederhana itu tidak
ada apa-apa yang special, tapi bagi saya bangunan itu adalah perlambangan dari
ayah, ibu, kakak, dan adik saya(keluarga).
Sepertinya sudah setahun lebih keluarga kami
berpindah meninggakanl rumah menuju tempat yang lumayan jauh dari rumah kami. Tapi
kenangan bersama didalam rumah ini tidak pernah habis-habisnya di telan waktu
dan kesibukan saya, kadang di sela-sela kesibukan saya, tetiba langsung teringat rumah kami, dan
tetiba mut yang tadinya bahagia langsung berubah menjadi pendiam dan hilang
selera untuk makan bahkan sesuap pun tidak ada nafsu.
Harta
yang paling berharga adlah keluarga
istana yang paling indah adalah keluarga
sepenggal lagu dari sound track sinetron lama yang judulnya keluarga cemara. 2 bait lagu diatas itu jika saya tafsirkan sendiri seolah olah bercerita mengenai keluarga yang sangat sederhana yang tidak me-nomor satukan uang didalam keluarga, tapi kehangatan keluarga didalam istana kecil nan sederhana yang mereka utamakan didalam keluarga. Keluarga tanpa rumah ibaratnya seperti matahari(keluarga) yang kehilangan cahaya (rumah), yang hanya memberikan kehangatan tapi cahayanya itu hilang sehingga mengganggu kestabilan pada bumi.
istana yang paling indah adalah keluarga
sepenggal lagu dari sound track sinetron lama yang judulnya keluarga cemara. 2 bait lagu diatas itu jika saya tafsirkan sendiri seolah olah bercerita mengenai keluarga yang sangat sederhana yang tidak me-nomor satukan uang didalam keluarga, tapi kehangatan keluarga didalam istana kecil nan sederhana yang mereka utamakan didalam keluarga. Keluarga tanpa rumah ibaratnya seperti matahari(keluarga) yang kehilangan cahaya (rumah), yang hanya memberikan kehangatan tapi cahayanya itu hilang sehingga mengganggu kestabilan pada bumi.
Karena album dari teman sebangku
(band indie asal bandung) yang dari tadi menemani saya sudah habis dan bir
kaleng yang tadi sempat saya beli juga sudah habis. mungkin besok-besok lagi
saya lanjut cerita mengenai rumah yang nyaman itu.
Pesan moral: bahagialah menurut
seleramu, bersedihlah sesuai takaran kemampuanmu, kecewa dan marah lah tapi
jangan biarkan hal itu membuatmu terlarut dalamnya, tulis semuanya sehingga
menjadi pelajaran hidupmu nanti
23,
april 2016
di meja kerjaku
di meja kerjaku
Victor.
Pasoloran
