Sabtu, 23 April 2016

Rumah yang Nyaman



YEEEYYYYY…….
akhirnya setelah sekian TAHUN victor kembali lagi menemukan kembali niatan untuk menulis. Cukup lama juga saya untuk menemukan kembali niat untuk menulis setelah di cerahkan oleh surayah alias pidi baiq, lewat tulisan-tulisannya lah sehingga saya kembali sangat suka untuk membaca dan menulis. Thank you pidi baiq.
                Oke pembahasan kali ini saya ingin mulai dari berbicara tentang rumah yang nyaman. Rumah yang nyaman menurut saya adalah tempat dimana kita merasakan marah, bahagia, sedih, dan segala jenis emosi yang dimiliki manusia dan tersalurkan di tempat itu selama bertahun-tahun bahkan mungkin dari awal si orang itu menghirup oksigen pertamanya di bumi sampai menutup matanya untuk terakhir kali, sejelek-jeleknya rumah itu jika sang pemilik keluar, tidak ada alasan bagi sang pemilik untuk berlama-lama meninggalkannya karena seolah-olah rumah adalah sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri.
               
Sebenarnya saya menulis ini adalah bentuk kerinduan seorang manusia bernama victor akan rumahnya di suatu daerah yang letak geografisnya berada di provinsi Sulawesi selatan,  kota pare-pare. yang mungkin saja rumah itu tidak akan dia tinggali lagi bersama keluarganya dikarenakan sesuatu yang sampai sekarang alasan untuk pindah tempat lain belum sampai di logika saya, but what ever lah victor hanyalah manusia biasa yang kadang pendapatnya di anggap sebelah mata, karena victor bukan apa-apa untuk saat ini di sekelilingnya (mungkin). Inti dari tulisan ini sebenarnya bukan untuk melampiaskan kekecewaan victor karena keluarga kecil kami berpindah ke tempat lain yang saya anggap bukan rumah, tempat itu lebih tepatnya saya anggap hanya sebatas tempat persinggahan, tempat tidur, dan tempat bercengkrama dengan ayah dan ibu mungkin juga bercengkrama dengan adik dan kakak jika mereka telah pulang dari tanah rantau nun jauh disana. Victor yang hanya rindu rumah.
 victor yang hanya rindu suasana rumah yang dulu sangat hangat rasa kekeluargaan didalamnya, daripada berkali kali naik motor sejauh 150km untuk melihat bangunan ini dan mengenang kembali masa keemasan keluarga kami di rumah dan mempertaruhkan nyawa untuk berkali kali naik motor sendiri ke rumah, mungkin dengan mengisi blog ini, kebiasaan bepergian jauh untuk melihat rumah akan sedikit berkurang (siapa tau).
 Gambar bangunan sederhana di atas itu adalah rumah kami (dulu). Rumah yang seakan sudah menyatu dengan darah, daging, tulang dan pikiran kami sekeluarga, mungkin menurut anda bangunan sederhana itu tidak ada apa-apa yang special, tapi bagi saya bangunan itu adalah perlambangan dari ayah, ibu, kakak, dan adik saya(keluarga).
 Sepertinya sudah setahun lebih keluarga kami berpindah meninggakanl rumah menuju tempat yang lumayan jauh dari rumah kami. Tapi kenangan bersama didalam rumah ini tidak pernah habis-habisnya di telan waktu dan kesibukan saya, kadang di sela-sela kesibukan saya,  tetiba langsung teringat rumah kami, dan tetiba mut yang tadinya bahagia langsung berubah menjadi pendiam dan hilang selera untuk makan bahkan sesuap pun tidak ada nafsu.
Harta yang paling berharga adlah keluarga
                istana yang paling indah adalah keluarga
sepenggal lagu dari sound track sinetron lama yang judulnya keluarga cemara. 2 bait lagu diatas itu jika saya tafsirkan sendiri seolah olah bercerita mengenai keluarga yang sangat sederhana yang tidak me-nomor satukan uang didalam keluarga, tapi kehangatan keluarga didalam istana kecil nan sederhana yang mereka utamakan didalam keluarga. Keluarga tanpa rumah ibaratnya seperti matahari(keluarga) yang kehilangan cahaya (rumah), yang hanya memberikan kehangatan tapi cahayanya itu hilang sehingga mengganggu kestabilan pada bumi.
Karena album dari teman sebangku (band indie asal bandung) yang dari tadi menemani saya sudah habis dan bir kaleng yang tadi sempat saya beli juga sudah habis. mungkin besok-besok lagi saya lanjut cerita mengenai rumah yang nyaman itu.


Pesan moral: bahagialah menurut seleramu, bersedihlah sesuai takaran kemampuanmu, kecewa dan marah lah tapi jangan biarkan hal itu membuatmu terlarut dalamnya, tulis semuanya sehingga menjadi pelajaran hidupmu nanti


23, april 2016
di meja kerjaku


Victor. Pasoloran